Usia 24 Tahun, Grandprix Doktor Termuda di Indonesia

Usia 24 Tahun, Grandprix Doktor Termuda di Indonesia

Usia 24 Tahun, Grandprix Doktor Termuda di Indonesia

Usia 24 Tahun, Grandprix Doktor Termuda di Indonesia

Usia 24 Tahun, Grandprix Doktor Termuda di Indonesia

Grandprix Thomryes Marth Kadja baru menginjak usia 24 tahun. Namun

, gelar doktor sudah digenggamnya. Pria kelahiran Kupang, NTT, itu sekaligus mencatat rekor sebagai doktor termuda Indonesia. Mahasiswa S-3 Kimia ITB tersebut Jumat (22/9) menjalani sidang terbuka.

’’Cukup lega karena akhirnya bisa menyelesaikan ujian,’’ bebernya. Grandprix lulus dengan predikat cum laude dengan promotor Dr I Nyoman Marsih.

Setelah lulus S-1 pada usia 19 tahun di Universitas Indonesia, Grandprix melanjutkan S-2 dengan beasiswa pendidikan magister menuju doktor untuk sarjana unggul (PMDSU) Kemenristekdikti. Waktu untuk menempuh S-2 sekaligus S-3 empat tahun. ’’Saya lebih cepat tiga hingga empat tahun dibandingkan waktu normal,’’ tuturnya.

Selama studi S-3 di ITB, waktu yang ada digunakan untuk melakukan penelitian secara penuh. Untuk disertasinya, Grandprix mengangkat topik tentang zeolit sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5. Zeolit sendiri merupakan zat kimia yang bisa mempermudah penyaringan zat yang tidak diperlukan di industri petrokimia. ’’Selama ini industri kita masih impor,’’ jelasnya. Dia ingin kelak tidak perlu lagi mendatangkan bahan itu dari luar negeri.

Grandprix menjelaskan, secara garis besar, penelitiannya itu berfokus pada material yang banyak dipakai di industri seperti petrokimia dan pengolahan biomassa.

Capaian luar biasa Grandprix tersebut tak lepas dari kerja keras dan keinginan

yang kuat dalam meraih mimpi. Pria yang telah menerbitkan sembilan publikasi ilmiah berskala nasional dan internasional itu mengakui penelitian-penelitiannya tidak selalu berjalan mulus. Proses yang sulit dan memakan waktu menjadi kendala. ’’Atau jika ada instrumen analisis yang tidak tersedia atau hasil penelitian yang tidak sesuai ekspektasi,” tambahnya.

Kendati demikian, kecintaan pada bidang yang ditekuni itu membuatnya tetap menjalani segala sesuatu, baik suka maupun duka. ’’Kepuasan tersendiri, terutama ketika hipotesisnya berhasil dibuktikan,’’ imbuhnya.

Terkait prestasinya, Grandprix berharap akademisi Indonesia dapat ikut terdorong

untuk memajukan dunia penelitian yang dimotori orang-orang muda Indonesia. ’’Jangan minder karena masih muda. Justru yang muda yang harus menjadi contoh bagi orang lain,” ujarnya.

Selain itu, Grandprix ingin program-program beasiswa seperti PMDSU dapat diteruskan eksistensinya dan diperbesar skalanya untuk menjaring peneliti dan doktor. Harapannya, Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lain.

Dalam sidang terbuka, Octavinanus Kadja, ayah Grandprix, hadir memberikan support. Dia mengungkapkan, putranya itu sejak kecil memang tekun belajar. Meski demikian, anak pertamanya tersebut bukan anak yang kaku. ’’Dia belajar di rumah juga tidak terlalu serius, sambil bermain. Tapi mungkin waktu dijelaskan di sekolah, dia cepat paham,’’ ujar Octavianus.

 

Sumber :

https://works.bepress.com/m-lukito/1/