The Legend of Chuck Min

The Legend of Chuck Min

The Legend of Chuck Min

The Legend of Chuck Min

The Legend of Chuck Min

Sepuluhan tahun yang lalu, datanglah ke Pasar Keputih pada malam hari. Dari Jalan Arif Rahman Hakim, masuklah ke Gang II sejauh lebih kurang sepuluh meter. Di sebelah timur gang itu, seorang lelaki setengah tua menjajakan legen sambil selalu mengantuk, bahkan sering tertidur. Mungkin karena kelelahan setelah seharian bekerja sebagai kuli bangunan. Para mahasiswa pelanggannya terkadang harus berjuang untuk membangunkannya sebelum mendapat segelas atau dua gelas legen pelepas dahaga. Selepas itu, mereka juga harus membangunkan kembali untuk membayar. Tidak mahal: cukup 150 rupiah per gelas—belakangan berinflasi menjadi 500 rupiah.

Tiap hari, selepas Maghrib menjelang Isyak, Cak Min dengan seragam kebesaran kemeja lengan pendek dan kopyah kumal, menggelar dagangannya di atas sebuah meja kecil. Beberapa jrigen legen ia bawa. Agar dingin, ia campur legen itu dengan es batu. Biar rasanya tidak terlalu menyengat dan sekaligus—ini nampaknya yang lebih penting—biar lebih banyak lagi legen yang dapat dijual, ia tambahkan air matang ke dalamnya. Benar, racikan Cak Min benar-benar pas.

Pelanggan Cak Min berasal dari berbagai kalangan: mahasiswa maupun penduduk Keputih dan sekitarnya. Beberapa gelintir mahasiswa membubui kegemarannya pada Cak Min dengan landasan teori dan ideologi agar tampak heroik. Legen Cak Min adalah tandingan produk minuman neoliberal. Rasa krenyeng-krenyeng Coca-Cola (saat itu belum ada brrrrr) bisa ditandingi dengan cerdik oleh alkohol yang terkandung di dalam legen. Meminum legen berarti menghidupkan perekonomian rakyat kecil seperti Cak Min dan ratusan petani siwalan di daerah Tuban dan sekitarnya.

Beberapa gelintir lagi mahasiswa sebenarnya ingin juga menolak Coca-Cola melalui legen. Bagi mereka, Coca-Cola haram dikonsumsi karena merupakan produk Amerika yang mendukung Israel dan memusuhi Islam. Tetapi kandungan alkohol dalam legen mengurungkan niat mereka untuk mengusung legen sebagai simbol perlawanan. Dalam nalar mereka, alkohol sama dengan khamrKhamrdalam jumlah sedikit sekalipun adalah haram dan najis.

Sebagian besar mahasiswa menjadi pelanggan Cak Min karena alasan ekonomi. Bagi sebagian mahasiwa bersubsidi: disubsidi negara melalui SPP, disubsidi masyarakat keputih melalui buka puasa gratis di masjid tiap Ramadhan, dan disubsidi ibu atau bapak kos dengan diperbolehkan nunggak bayar kos untuk beberapa bulan, legen Cak Min merupakan cara murah untuk mendapat kesegaran alamiah. Dalam hal ini, legen Cak Min benar-benar pas. Pas di lidah, pas di kantong.

Sekarang, datanglah ke Pasar Keputih pada malam hari. Dari Jalan Arif Rahman Hakim, masuklah ke Gang II sejauh lebih kurang sepuluh meter. Di sebelah timur gang itu, tak ada lagi seorang lelaki setengah tua menjajakan legen sambil selalu mengantuk, bahkan sering tertidur.

Tidak usah dibuat analisis macam-macam. Cak Min tak lagi berjualan bukan karena tak ada lagi mahasiswa yang berideologi antineoliberalisme, bukan pula karena semakin banyak mahasiswa yang ghirah Islamnya tinggi sehingga legen diharamkan, dan bukan pula karena semakin sedikit mahasiswa bersubsidi. Mungkin ia hanya kelelahan.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/strain-tactics-apk/