Table Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson

Table Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson

Table Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson

Table Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson
Table Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson

Sistem Klasifikasi Oldeman

Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut.

 

Oldeman, et al (1980) mengungkapkan

bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm.

 

Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas

yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004).

 

Oldeman membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim.

Zona iklim merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun. Sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun. Pemberian nama Zone iklim berdasarkan huruf yaitu zone A, zone B, zone C, zone D dan zone E sedangkan pemberian nama sub zone berdasarkana angka yaitu sub 1, sub 2, sub 3 sub 4 dan sub 5.

Zone A dapat ditanami padi terus menerus sepanjang tahun. Zone B hanya dapat ditanami padi 2 periode dalam setahun. Zone C, dapat ditanami padi 2 kali panen dalam setahun, dimana penanaman padi yang jatuh saat curah hujan di bawah 200 mm per bulan dilakukan dengan sistem gogo rancah. Zone D, hanya dapat ditanami padi satu kali masa tanam. Zone E, penanaman padi tidak dianjurkan tanpa adanya irigasi yang baik. (Oldeman, et al., 1980).

Lihat Pula:

Pemanasan Global (catatan mengenai sebabnya)

Pemanasan Global (catatan mengenai akibatnya)Cuaca dan IklimKlimatologi untuk PertanianPerubahan Iklim di BaliSusahnya Memprediksi HujanEl Nino dan La NinaPerlukan Informasi Peringatan Dini Kebencanaan???Aplikasi GIS untuk Klasifikasi Iklim Schmidt-FergusonHUJANLa Nina kah Penyebab Banjir Dimusim Kemarau?
Bencana CuacaInfo El Nino dan La Nina terkiniIdentifikasi Hubungan Fluktuasi Nilai SOI Terhadap Curah Hujan Bulanan Di Kawasan Batukaru-Bedugul, BaliPerubahan Iklim; Tinjauan PustakaPENYEBAB VARIABILITAS HUJAN DI INDONESIAHubungan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan Perubahan IklimEROSI DAN PERUBAHAN IKLIMPERTUKARAN CO2 ANTARA ATMOSFER DAN LAUT: PendahuluanEVALUASI ZONA AGROKLIMAT KLASIFIKASI SCHIMIDT-FERGUSON DI PULAU LOMBOKApa sih Banjir…?Faktor Penyebab Banjir (1)Faktor Penyebab Banjir (2): Perubahan Lingkungan

Baca Juga :

Author: soo4r