sejarah perkembangan hukum islam

ISLAM PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGANYA

Pendahuluan

Islam sebagai suatu sistem ajaran keagamaan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang datang dari langit dalam keadaan yang telah sempurna, bersifat sakral dan tidak menerima perubahan. Ajaran ini diyakini cocok untuk segala keadaan di mana pun atau صالح لكل زمان ومكان, karena bersifat universal.
Pertanyaan kemudian timbul mengenai kecocokannya untuk segala keadaan, mengingat bahwa keadaan tidak tetap dan tidak sama, melainkan berubah dari satu masa ke masa yang lain dan berbeda dari suatu tempat ke tempat yang lain. Selain itu, ternyata pula bahwa apa yang diyakini sebagai ajaran Islam itu sangatlah lengkap dan mencakup berbagai perincian, padahal suatu aturan yang lengkap dan terinci tidak akan dapat sesuai dengan keadaan-keadaan yang berbeda. Kelengkapan dan keterinciannya akan mengurangi keluwesannya. Aturan yang berkenaan dengan waktu salat, misalnya, sudah sedemikian cermat untuk negara-negara tropis tempat tinggal kebanyakan orang Islam, dengan ukuran jam maupun dengan menggunakan gejala-gejala alam. Ketika seorang muslim pergi ke daerah dekat kutub utara pada musim panas atau musim dingin, aturan-aturan itu menjadi tidak lagi dapat dijalankan. Di Musim panas, matahari selalu kelihatan di sana. Orang Perancis menyebutnya les nuits blanches (malam putih), karena di malah hari pun matahari tetap di atas kepala. Untuk dapat tidur, orang lalu memakai kacamata hitam (lunettes noires). Di musim dingin, sebaliknya, selama beberapa hari matahari tidak muncul. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana prang menjalankan salat atau puasa? Mengikuti perjalanan matahari di situ, mengikuti perjalanan matahari di daerah tropis atau bagaimana? Karena aturan itu sangat terperinci untuk daerah tropis, kemungkinan penerapannya di daerah kutub menjadi sangat sulit.
Orang lalu berpikir bahwa keuniversalan Islam semestinya ada pada hal-hal yang bersifat mendasar, sementara untuk hal-hal yang berkaitan dengan perincian dimungkinkan adanya penyesuaian sepanjang tidak menyalahi hal-hal yang bersifat dasar itu. Kecocokan Islam untuk segala zaman dan tempat berarti kemungkinannya untuk tetap mempertahankan hal-hal pokok dengan memberikan ruang bagi penyesuaian-penyesuaian terhadap keadaan yang berbeda. Akan tetapi, orang tidak sepakat mengenai bagian-bagian mana yang dianggap dasar nan tidak boleh diubah (al-tsābit, jamak: al-tswābit) dan bagian yang bersifat perincian nan boleh berubah (al-mutaḥawwil).
Penyelidikan sejarah menunjukkan bahwa Islam mengalami perkembangan, bukan hanya dalam pembentukannya dari suatu gerakan dakwah yang dimulai oleh Nabi Muhammad saw. menjadi suatu sistem ajaran, melainkan juga bahwa sistem yang telah terbentuk pun tidak berada dalam satu keadaan yang sama. Makalah ini akan berbicara mengenai bagaimana sistem ajaran Islam terbentuk dan kemudian berkembang menjadi pusaka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan oleh banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Faktor-faktor yang terlibat dalam perkembangan itu pun akan dibicarakan sehingga diharapkan dapat dibuat gambaran yang jelas mengenai proses yang dialami Islam dalam perjalanan sejarahnya.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/