Petuah Rutin Saat Idul Adha

Petuah Rutin Saat Idul Adha

Petuah Rutin Saat Idul Adha

Petuah Rutin Saat Idul Adha

Petuah Rutin Saat Idul Adha

Pertama, seperti tahun-tahun sebelumnya, Khotib dan para penceramah baik di mimbar khutbah maupun pengajian di waktu-waktu seputar idul Adha mengigatkan kewajiban menyembelih binatang qurban. Biasanya cerita ketaatan Ibrahim as digunakan untuk mengingatkan kembali keharusan mengikuti perintah Allah. Ketaatan itu mutlak, meskipun harus mengorbankan anak kandung yang kehadirannya dinantikan bertahun-tahun. Biasanya pendengar lantas dipaido, wong anak saja dikasihkan sama Nabi Ibrahim, kok sampean bondo kambing saja nggak mau. Pendengar juga dimotivasi dengan besarnya pahala berkurban. Kalau nggak salah, salah satunya adalah tiap helai bulu binatang yang disembelih anak Adam semata-mata untuk memenuhi perintah Tuhan akan berubah menjadi 10 ribu malaikat. Mereka akan terus beristighfar memohonkan ampun bagi si anak Adam tadi.

Petuah ini tentu bermanfaat. Memotivasi orang berpunya untuk menyembelih binatang qurban. Selain mendorong orang bertaqwa, diharapkan semakin banyak kambing dan sapi yang harus disediakan. Dengan demikian, sedikit banyak mendongkrak perekonomian pedesaan. Petuah ini juga mendorong orang untuk lebih giat bekerja agar tahun berikutnya bisa berkurban.

Kemampuan membeli binatang qurban juga berhubungan dengan tingkat kesejahteraan. Sayangnya, kesejahteraan tidak identik dengan motivasi yang dimiliki seseorang. Meskipun memiliki motivasi besar untuk bisa membeli binatang qurban, belum tentu seseorang benar-benar dapat mewujudkannya. Bisa jadi sampai akhir hidupnya ia tidak pernah memiliki kemampuan membeli binatang qurban. Kita sama-sama tahu, hasil penelitian tentang N-Ach hanyalah doktrin yang sarat kepentingan. Faktanya, tingkat kesejahteraan lebih bersifat struktural.

Nah, dari sisi ini wejangan di atas juga bisa membuat banyak orang nelongso. Jangankan menyembelih binatang qurban, untuk mendapat jatah daging qurban saja harus uwel-uwelan dan pidek-pidekan kok. Jangankan menyembelih binatang qurban, beras jatah raskin saja diimbuhi bau ampek dan kutu beras, kok. Jangankan menyembelih binatang qurban, ngurus jamkesmas saja dipungli, kok. Jangankan menyembelih binatang qurban, jualan saja digusur, kok. Lha terus kapan ada jutaan malaikat yang mau beristighfar buat mereka?…..

Memang sebenarnya mereka nggak butuh itu. Mereka inilah yang pertama masuk Surga bersama Kanjeng Nabi Muhammad saw. Rasulullah saja berdo’a dimasukkan golongan orang miskin, kok. Tapi sayangnya, bagi kebanyakan orang jadi miskin itu menyakitkan !

Kedua, para pemberi nasehat meyakinkan bersamaan dengan disembelihnya binatang qurban, disembelih pula nafsu kebinatangan di diri sang pengurban. Mungkin maksudnya, dengan menyembelih binatang qurban seseorang dapat menekan nafsu serakah dan keinginan menginjak yang lemah. Nafsu serakah dan keinginan menginjak yang lemah ini justru khas pada manusia dan tidak dimiliki binatang.

Binatang memang akan menghajar pesaingnya dalam mencari makan dan pasangan. Tapi tidak pernah berlebih seperti manusia. Singa jantan tidak akan menyerang singa jantan lain yang tidak mengusik kekuasaannya. Sebaliknya Manusia, meskipun Sedulur Sikep di Sukolilo tidak akan mengganggu produksi, Semen Gresik dengan bantuan orang pinter dari kampus dan penegak hukum dunia terus “menggebuki” mereka.

Tak satupun kambing makan rumput melebihi yang dibutuhkannya. Kambing tidak pernah menimbun rumput. Sebaliknya Manusia, setiap tahun ada saja manusia menimbun bahan pangan dan pupuk meskipun setiap tahun ada manusia lain yang kelaparan dan kekurangan gizi. Kambing tidak pernah berfikir untuk memiliki rumah melebihi yang dia butuhkan, apalagi berbagai benda yang sama sekali tidak dibutuhkan kecuali hanya untuk menyombongkan diri. Kalau mahluk sombong tidak akan dapat mencium bau surga, jangan-jangan surga nanti dipenuhi kambing?

Jadi kira-kira yang hendak dibunuh dengan berqurban bukan nafsu kebinatangan, tapi nafsu yang bisa membuat Manusia menjadi lebih rendah dari binatang. Lantas bagaimana menyembelih binatang qurban bisa menekan nafsu serakah dan keinginan menginjak yang lemah? Mungkin dengan menyembelih binatang qurban Manusia dilatih untuk membagikan apa yang dia miliki kepada yang lain.

Tujuan latihan ini tentu sulit dicapai. Menyembelih binatang qurban harus ikhlas. Hanya mengharapkan ridlo Allah bukan yang lain. Popularitas menjelang pilkada, misalnya. Para tokoh yang hendak bertarung di pilkada Surabaya nampang di harian Jawa Pos kemarin. Kegiatan mereka menyembelih binatang qurban dimuat setengah halaman. Luar biasa, berapa uang yang dikeluarkan untuk membeli ruang seluas itu? menyembelih binatang qurban juga bisa karena sungkan atau biar dipuji kolega. Alih-alih melatih mengurangi keserakahan, menyembelih binatang qurban justru menjadi ajang ujuk diri tahunan.

Ketiga, pemberi petuah mengatakan bahwa menyembelih binatang qurban melatih kepedulian sosial kepada sesama. Petuah ini seringkali disalahartikan: kepedulian sosial cukuplah dilakukan dengan bentuk carity saja. Pemahaman ini tidak memadai, kemiskinan pada kenyataannya hanya bisa diselesaikan dengan pemberdayaan, penguatan, dan emensipasi kaum miskin. Aturan juga harus diubah menjadi kebijakan yang menguntungkan kelompok paling lemah di masyarakat.

Pesan-pesan Idhul Adha yang selama ini sering disampaikan menurut Saya belum membawa spirit Hari Raya Qurban yang sesungguhnya. Pesan untuk taat kepada Allah dengan memberikan apapun yang kita cintai di jalan Allah sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim masih dibatasi pada ketaatan menyembelih binatang qurban pada hari tasyriq.

Mestinya dipertegas bahwa menyembelih binatang qurban hanyalah simbolisasi kesanggupan untuk memberi bagi sesama setiap saat dan di mana pun sebagai bentuk penghambaan dan ketaatan kepada Allah. Pemberian itu dapat berupa tenaga, waktu, maupun fikiran. Dengan demikian ukuran kemampuan berqurban diperluas bukan hanya kemampuan membeli binatang kurban. Dengan demikian siapun dapat dan wajib berqurban. Dengan demikian, tidak cukup jika misalnya seorang dosen telah menyembelih seekor sapi tetapi membiarkan seorang pemuda gagal menjadi mahasiswa hanya karena dia miskin. Dengan demikian, tidak cukup jika misalnya seorang Walikota menyembelih belasan ekor sapi tetapi masih membuat keputusan yang menghalangi warganya mencari nafkah.

Menyembelih binatang qurban juga kesediaan untuk terus menjaga ketersediaan binatang qurban. Menjaga ketersediaan binatang qurban berarti menjaga kelestarian lingkungan hidup yang menjadi habitat binatang. Menjaga ketersediaan binatang qurban berarti juga menjaga agar para petani tetap beternak di desa dan tidak pergi mencari penghidupan ke kota. Menjaga ketersediaan binatang qurban berarti harus menjaga agar perekonomian di desa terus bergerak secara adil bagi para petani. Menyembelih binatang qurban seharusnya bukan hanya menghentikan keserakahan pribadi tetapi juga menghentikan keserakahan pembangunan kota.

Perintah menyembelih binatang qurban harus dimaknai sebagai perintah untuk menjamin kesejahteraan sosial dan keberlajutan ekologi. Perintah itu tidak mungkin terlanksi.

Baca Juga :