Pengertian Qiyas

Pengertian Qiyas

Secara etimologis kata qiyas berarti (qodrun) artinya mengukur, membandingkan sesuatu dengan yang semisalnya, sedangkan menurut terminologi (istilah hukum), terdapat beberapa definisi berbeda yang saling berdekatan artinya. Diantara definisi-definisi itu adalah[1] :

  1.                   Menurut Abu Hasan Al Bashri, memberikan definisi :

Qiyas yaitu menghasilkan atau menetapkan hukum asal pada furu’ karena kedunya sama dalam ‘ilat                                    hukum menurut mujtahid.

  1. Menurut Ibnu Subhki dalam bukunya jam’ul Jawami’ memberikan definisi sebagai berikut:

Qiyas yaitu menghubungkan sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang diketahui karena kesamaannnya dalam ‘ilat hukumnya menurut pihak yang menghubungkan (mujtahid).[2]

  1. Menurut Wahbah Zuhaili

Mendefinisikan qiyas yaitu menghubungkan (menyamakan hukum) sesuatu yang tidak ada ketentuan hukumnya dengan sesuatu yang ada ketentuan hukumnya, karena ada persamaan ‘ilat antara keduanya.[3]

  1. Pengetian Qiyas menurut Ulama Ushul

Ialah menerangkan hukum sesuatu yang tidak ada Nash nya dalam Al-qur’an dan Hadits dengan cara membandingkannya dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasakan nash, mereka juga membuat definisi, lain bahwa qiyas ialah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya, karena ada persamaan ilat hukumnya.[4]

Dari definisi-definisi diatas dapat diterangkan bahwa, Qiyas adalah salah satu kegiatan ijtihad mengenai suatu hukum yang tidak ditegaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapaun Qiyas yang dilakukan seorang mujtahid dengan meneliti alasan logis(‘ilat) dari rumusan hukum itu dan setelah itu diteliti pula keadaan ‘ilat yang sama, pada masalah lain yang tidak termaktub dalam Al-Qur’an dan As-sunnah. Bila benar ada kesamaan ‘ilatnya maka keras dugaan bahwa hukukmnya juga sama. Begitu juga yang dilakukan dalam berbagai praktek Qiyas.[5]

  1. Dasar Hukum Qiyas

Sebagian besar ‘ulama ahli fiqih dan para pengikut madzhab empat sependapat bahwa qiyas dapat dijadikan salah satu dalil atau dasar hujjah dalam menetapkan hukum ajaran Islam. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang kadar atau macam-macam qiyas yang boleh digunakan dalam mengistinbatkan hukum. Hanya sebagian kecil para ‘ulama yang tidak membolehkan pemakaian qiyas sebagai dasar hujjah, diantaranya ialah salah satu cabang madzhab zahiri dan sebagian madzhab syi’ah.

Mengenai dasar hukum qiyas bagi yang membolehkannya sebagai dasar hujjah ialah dalil yang bersumber dari Al-Quran, Al-Hadits, dan perbuatan sahabat.[6]

  1. Al-Quran

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih 

Sumber :

https://littlehorribles.com/