Parsialnya Pendekatan Pemerintah RI dalam Menghadapi Malaysia

Parsialnya Pendekatan Pemerintah RI dalam Menghadapi Malaysia

Parsialnya Pendekatan Pemerintah RI dalam Menghadapi Malaysia

Parsialnya Pendekatan Pemerintah RI dalam Menghadapi Malaysia

Parsialnya Pendekatan Pemerintah RI dalam Menghadapi Malaysia

Meski beberapa diantaranya diperlukan, Menghadapi Malaysia yang semakin kurang ajar tidaklah cukup hanya dengan demonstrasi,  memulangkan dubesbikin paten dan memperjuangkan international recognizion dari produk-2 budaya lokal kita. Untuk itu, Indonesia perlu melakukan paling tidak 2 hal besar: (1) Menelisik akar motivasi kekurang-ajaran Malaysia, baik secara politik regional, sosial budaya maupun ekonominya. Untuk itu, Indonesia perlu mengaktifkan operasi inteligen tingkat tinggi ke negara jiran dan kawasan regional Asia Tenggara. (2) Melihat kedalam sanubari bangsa ini guna mencari fundamental berbangsa apa yang terkikis dan apa yang telah hilang sama sekali.

Alasan-alasan Malaysia misalkan “itu tidak disengaja“, “sejak kecil kami telah menyanyikan lagu Rasa Sayange“, “itu kan budaya nusantara, jadi milik kami juga” dan lain-lain menurut saya hanyalah alasan klise untuk menutupi sebuah strategi yang lebih besar. Kalau nggak tahu atau nggak sengaja mengapa kok berkali-kali. Nggak butuh orang jenius untuk kemudian menaruh curiga bahwa dibalik insiden-insiden ini pasti ada apa-apanya.

Malaysia bertetangga dekat dengan Singapore yang selama bertahun-tahun telah berkali-kali berhasil mempecundangi Indonesia baik dalam hal kekayaan alamya, keberpihakan penguasanya (baik lokal maupun nasional), eksploitasi Indonesia sebagai pangsa pasar, maupun kekayaan geo politik kita  untuk memakmurkan negri kecil tersebut. Malaysia dan Singapura sama-sama bekas jajahan Britain Raya, sehingga produk elit politik kedua negara tidaklah jauh berbeda cara pikir dan mentalitasnya. Melihat Sukses besar mengunakan leverage bisnis berupa OPR (other people resources) yang dalam hal ini adalah resources Indonesia, maka  mungkin saja Malaysia tertarik untuk melakukan hal serupa.

Mungkin para elit pemimpin kita tidak sempat berpikir (atau malah jangan-jangan tidak terpikir), kira-kira apa sih yang melatari tindakan-tindakan Malaysia tersebut ?. Sehingga responnya sangat sporadis dan parsial.  Semua bentuk respons, merupakan bentuk teknis dan mekanistis yang lebih didasari oleh logika bisnis belaka. Mulai dari pemanggilan dubes, ide memperluas international recognizion terhadap berbagai produk budaya kita (misalkan status world heritage dari Unesco dll), ataupun pematenan produk-produk budaya tersebut.  Semuanya adalah response “normal” yang sejatinya sangat merendahkan fakta bahwa rasa nasionalisme anak bangsa telah tergugah.

Terlepas dari banyaknya dosa-dosa lain terhadap bangsa ini semisal penyiksaanTKI, traficking, ataupun pembalakan liar. Menurut saya, kita perlu melihat apa yang sedang terjadi di negara tetangga dengan lebih seksama. Sejauh pengamatan saya, Malaysa sebenarnya memiliki agenda tertentu dan ingin menunjukkan pada pada dunia melalui berbagai simbol. Misalkan : Pendirian menara Petronas sebagai menara kembar tertinggi di dunia pada tahun 1998, Pemberangkatan manusia Melayu (Asia Tenggara) pertama ke luar angkasa, pendeklarasian visi Malaysia sebagai negara supplier makanan halal terbesar di dunia, slogan Malaysia Trully Asia dll, mengindikasikan bahwa negara tersebut sedang menata bangunan reputasi dan visi internasionalnya.

Coba bandingkan hal ini dengan bangsa Indonesia. Praktis setelah pemerintahan Abdurrahaman Wahid, tidak ada lagi penawaran visi sebagai bangsa dari pemimpin negeri ini. Sebagai kilas balik coba kita renungkan: Sukarno pernah menawarkan visi sebagai one of new emerging forces di tata dunia baru pasca PD II, Suharto paling tidak mampu menjaga kewibawaan bangsa Indonesia di kawasan Asia Tenggara, Habibi ingin mengangkat negeri ini melalui peningkatan kapasitas teknologi industri dan akuisisi teknologi tinggi. Terakhir, Gus Dur menawarkan visi membangun poros Jakarta – Peking – New Delhi, serta mendorong visi sebagai negara bahari.  Setelah itu, Megawati bahkan SBY ternyata tidak menawarkan visi apapun yang bisa menjadi energi kolektif bangsa ini untuk bergerak bersama.

Bahkan energi besar yang bersumber pada rasa cinta bangsa dan negara Indonesia, yang muncul akibat diusik kekurang-ajaran Malaysia, pun tidak membuat penguasa kita sadar atas energi raksasa tidur itu.  Para elit seakan sibuk dengan urusan pribadi dan kelompoknya masing-masing. Miliaran rupiah dihamburkan untuk dana kampanye, kalau kalah untuk menuntut gugatan pemilu pula. Tapi orang sudah lupa lagi untuk bermimpi sebagai sebuah bangsa. Sudah lupa lagi rasanya bangga ketika bergaul dengan bangsa-bangsa lain dengan mental dan harkat yang sederajat.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kickass-commandos-apk/