Listeriosis: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Listeriosis: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Listeriosis adalah tidak benar satu penyakit yang patut diwaspadai bagi orang tertentu. Penyakit ini bisa disebabkan oleh bakteri, dan umumnya orang yang terinfeksi mungkin nyaris tidak menyadarinya. Namun, mereka yang berisiko tinggi bisa sangat enteng terpengaruh, dan apalagi angka kematiannya relatif tinggi. Selengkapnya baca konsisten untuk beroleh Info lengkap tentang apa itu listeriosis, gejala, hingga pencegahannya di bawah ini.

Apa Itu Listeriosis?
Listeriosis adalah infeksi bakteri akibat konsumsi makanan yang tercemar bakteri bernama Listeria monocytogenes. Bakteri ini bisa mencemari daging yang diolah secara tidak benar dan susu yang tidak dipasteurisasi.

Bakteri Listeria tidak begitu beresiko pada orang yang sehat, tetapi sangat beresiko bagi ibu hamil, manula di atas umur 65 tahun, dan orang bersama dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Bakteri Listeria bisa bertahan hidup dalam suhu dingin atau apalagi beku, termasuk dalam lemari pendingin. Bakteri ini termasuk bisa hidup di tanah, air, debu, dan kotoran hewan.

Gejala Listeriosis
Tanda dan tanda-tanda awal listeriosis mungkin tidak begitu mengerti dalam sebagian waktu. Biasanya tanda-tanda akan nampak dalam sementara 11 atau apalagi 70 hari setelah konsumsi makanan yang tercemar bakteri Listeria.

Tanda dan tanda-tanda listeriosis cenderung terjadi 1 hingga 3 hari:

Demam
Gejala layaknya flu
Nyeri otot
Mual
Diare
Bagi umumnya orang, infeksi Listeria akan hilang bersama dengan sendirinya tanpa disadari. Namun, infeksi bakteri pada anak-anak, manula, dan orang bersama dengan sistem kekebalan yang lemah bisa menyebar ke sistem saraf yang diikuti bersama dengan tanda-tanda berikut:

Sakit kepala
Leher kaku
Tremor dan kejang
Kebingungan
Kehilangan keseimbangan
Orang yang rentan penyakit listeriosis bisa memicu infeksi darah yang serius (septikemia) atau radang selaput di kurang lebih otak (meningitis). Namun, jika infeksi Listeria menjalar ke otak, mungkin bisa gawat dan menyebabkan sebagian gejala, termasuk:

Ensefalitis: Peradangan otak.
Abses serebral: Penumpukan nanah di dalam otak.
Kelumpuhan saraf kranial: Kelumpuhan dan tremor.
Meningoensefalitis: Kombinasi meningitis dan ensefalitis.
Meningitis: Peradangan pada selaput yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang.
Gejala Listeriosis pada Ibu Hamil
Ibu hamil punyai risiko lebih tinggi mengembangkan penyakit listeriosis daripada umumnya orang. Ibu hamil yang menderita infeksi Listeria mungkin tidak mengalami tanda-tanda yang tampak daripada bayi dalam kandungan.

Listeriosis pada ibu hamil bisa memicu keguguran atau kelahiran prematur. Sementara bayi baru lahir bisa menderita infeksi yang mengancam jiwa setelah kelahiran sebagian hari dan sebagian minggu.

Tanda dan tanda-tanda listeriosis pada bayi yang baru lahir, di antaranya:

Demam
Muntah
Kesulitan bernapas
Bayi enteng marah
Nafsu makan hilang
Kapan Harus ke Dokter?
Jika terlanjur makan makanan yang ditarik ulang berasal dari pasaran karena tercemar bakteri Listeria, memperhatikan sinyal dan gejalanya. Jika mengalami demam, nyeri otot, mual atau diare, segera hubungi dokter.

Begitupun jika mengalami demam tinggi, sakit kepala parah, leher kaku, kebingungan atau peka pada cahaya, segera cari perawatan darurat medis. Gejala ini bisa mengindikasikan meningitis bakteri, komplikasi infeksi listeria yang mengancam jiwa.

Penyebab Listeriosis
Penyakit listeriosis disebabkan oleh Listeria monocytogenes, sejenis bakteri yang kerap ditemukan di air, debu, tanah, tumbuhan, dan kotoran hewan.

Makanan spesifik berisiko tinggi tercemar bakteri Listeria, termasuk daging olahan, susu yang tidak dipasteurisasi, dan seafood asap yang didinginkan. Namun, tersedia banyak makanan lainnya yang termasuk bisa tercemar listeria, termasuk apel karamel, melon, dan kol yang diberi pupuk kotoran hewan.

Bakteri Listeria bisa memicu infeksi pada manusia bersama dengan sebagian cara berikut:

Sayuran mentah dan buah-buahan yang udah terkontaminasi bakteri berasal dari tanah atau pupuk kandang yang tercemar bakteri Listeria.
Mengonsumsi daging yang terkontaminasi bakteri.
Mengonsumsi daging olahan, layaknya deli meat, hot dog, dan seafood asap yang didinginkan.
Meminum produk susu yang tidak dipasteurisasi, termasuk susu, keju lunak, dan es krim.
Bayi dalam persentase bisa terinfeksi bakteri Listeria berasal dari ibunya.

Faktor Risiko Listeriosis
Orang spesifik punyai risiko lebih tinggi mengalami infeksi Listeria, di antaranya:

Ibu hamil
Manula di atas umur 65
Menggunakan penurun kekebalan tubuh, layaknya prednison atau obat lain untuk membuat sembuh penyakit autoimun layaknya rheumatoid arthritis
Sedang meniti penyembuhan untuk menghambat penolakan transplantasi organ
Sedang meniti kemoterapi
HIV/AIDS
Diabetes
Penyakit hati
Kanker
Diagnosis Listeriosis
Diagnosis listeriosis memerlukan pemeriksaan yang sederhana. Tes darah adalah cara yang paling efisien untuk memilih seseorang terkena infeksi Listeria. Bagi sebagian kasus, sampel urine dan sampel berasal dari tulang belakang termasuk bisa memilih infeksi Listeria.

Pengobatan Listeriosis
Kebanyakan orang yang mengalami infeksi bakteri enteng mungkin tidak memerlukan perawatan. Namun untuk penyakit listeriosis yang lebih serius, antibiotik jadi tidak benar satu pilihan perawatan yang paling kerap digunakan, layaknya ampicillin atau bisa dikombinasikan bersama dengan bersama dengan antibiotik lainnya (misalnya gentamicin).

Jika mengalami septikemia atau meningitis akibat infeksi Listeria yang menyebar ke otak, pasien akan diberi antibiotik intravena dan memerlukan perawatan untuk penyembuhan hingga sebagian minggu.

Sementarara listeriosis pada ibu hamil, pertolongan antibiotik yang pas bisa menopang menanggulangi dan menghambat infeksi pada bayi dalam kandungan.

Pencegahan Listeriosis
Berikut sejumlah cara yang terbaik untuk menghambat penyakit listeriosis:

1. Membersihkan Tangan dan Alat Makan Setelah Makan
Membersihkan tangan sebelum saat dan setelah makan, dan bersihkan peralatan makan. Cara ini untuk kurangi mungkin kontaminasi silang saat mencuci tangan sebelum saat dan setelah memasak, bersihkan barang, atau menaruh bahan makanan.

2. Membersihkan Bahan Makanan
Bersihkan bahan makanan di bawah air mengalir, layaknya buah dan sayuran. Lakukan cara ini apalagi jika akan mengulas buah atau memotong sayuran.

3. Masak Makanan bersama dengan Benar
Cara memasak yang pas bisa membunuh bakteri pada makanan, terlebih daging. Bila perlu, memanfaatkan termometer untuk menegaskan masakan meraih suhu yang disarankan.

4. Ibu Hamil Harus menjauhkan Sumber Bakteri Listeria
Listeriosis pada ibu hamil tergolong berbahaya, untuk itu hindarilah makanan yang mungkin bisa terinfeksi, layaknya produk susu yang tidak dipasteurisasi, daging olahan, atau ikan asap.

5. Bersihkan Lemari Es secara Teratur
Mencuci rak, laci, pintu dan pegangan lemari es bersama dengan air hangat dan sabun secara tertata untuk membunuh bakteri.

6. Menjaga Suhu Lemari Es Cukup Dingin
Bakteri Listeria bertahan hidup dalam suhu dingin, tetapi menyesuaikan suhu kulkas bersama dengan benar bisa memperlambat perkembangan bakteri. Anda bisa memanfaatkan termometer untuk menopang memilih suhu kulkas di bawah 40°F (4,4°C). Sementara freezer perlu di bawah 0°F (-17,8°C).

Baca Juga :