Lima Guru Madrasah Terima Penghargaan Menteri Agama

Lima Guru Madrasah Terima Penghargaan Menteri Agama

Lima Guru Madrasah Terima Penghargaan Menteri Agama

Lima Guru Madrasah Terima Penghargaan Menteri Agama

Lima Guru Madrasah Terima Penghargaan Menteri Agama

Bandung- Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifudin, memberi penghargaan kepada lima guru

madrasah yang menginspirasi dan atas dedikasinya dalam mencetak generasi penerus bangsa meski menghadapi keterbatasan.

Kelima guru yang memperoleh penghargaan yaitu, Ahmad Haris (Alor, NTT), Untung (Sumenep, Jatim), Suraidah (Sebatik, Kaltim), Indra Ariwibowo (Semarang, Jateng), dan Supena (Lebak, Banten).

“Mereka adalah profil istimewa yang spirit dan perjuangannya menginspirasi kita semua. Negara dan bangsa ini berhutang kepada mereka,” ujar Menag saat memberikan penghargaan di Hotel Harris, Kota Bandung, Sabtu (8/12/2018)

Menurut Menag, para penerima penghargaan ini memiliki kesamaan, yaitu menghadapi keterbatasan fasilitas, minim kesejahteraan, dan berjibaku dengan kisah-kisah butuh perjuangan.

Meski begitu, semangat mereka untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh

, berbagai macam rintangan itu dihadapi dengan keikhlasan. Kekuatan mereka dibentuk oleh kecintaan kepada anak-anak didik yang luar biasa.

“Kalau kita refleksikan kepada diri kita, belum kita sanggup melakukannya,” kata dia.

Seluruh guru yang mendapat penghargaan berasal di daerah terpencil yang jauh dari hiruk pikuk kota. Ahmad Haris misalnya, guru Madrasah di Pulau Bua, Alor, NTT. Ia harus menempuh jarak berkilo-kilo meter dari rumahnya ke sekolah tempatnya mengajar di MI Pulau Bua, Alor.

Dalam pantauan Antara, setiap hari pria 40 tahun ini harus keluar rumah pada pagi buta, berjalan tiga kilometer melewati hutan, lalu berenang menyebrangi selat sejauh satu mil hanya untuk mengajar. Hal ini dilakukannya selama 15 tahun terakhir dengan gaji guru madrasah yang tak seberapa nilainya.

Sementara Indra Ariwibowo, guru MI Luar Biasa Budi Asih, Semarang, menceritakan bahwa ia

harus berjuang bersama muridnya yang pada awalnya hanya berjumlah empat orang di kelas yang selalu dilanda banjir ketika musim hujan tiba. Bersama beberapa rekannya ia berhasil menghidupkan kembali sekolah tua yang sudah hampir tutup, mengubahnya menjadi sekolah untuk anak berkebutuhan khusus yang kini telah memiliki gedung dan tanah sendiri.

“Saya sendiri juga berkebutuhan khusus dalam pengelihatan low vision. Karena saya diberi amanah oleh pengurus yayasan yang sudah meninggal, titip jaga madrasah,” kata dia.

Adapun Suraidah, seorang guru yang juga kepala sekolah MI Darul Furqan, Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, menceritakan bahwa daerahnya merupakan kawasan terpencil dan berada dalam garis kemiskinan.

Bahkan untuk masalah dasar seperti seragam, sepatu, tas dan alat-alat sekolah masih kesulitan didapat. Beberapa siswa yang memiliki saudara harus silih bergantian memakai seragam yang sama ketika bersekolah.

 

Sumber :

https://thesrirachacookbook.com/teks-laporan-hasil-observasi/