Lebih Apik Mengelola Risiko Bencana

Lebih Apik Mengelola Risiko Bencana

Lebih Apik Mengelola Risiko Bencana

Lebih Apik Mengelola Risiko Bencana

Lebih Apik Mengelola Risiko Bencana

Sebelumnya, platform Petabencana.id hanya mengolah data laporan banjir di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

KORBAN terdampak bencana alam sering kali tidak terevakuasi akibat lokasi dan peristiwa tidak terdeteksi. Oleh karena itu, berbagai pihak di Indonesia berupaya membangun teknologi untuk manajemen kebencanaan.

Yayasan Peta Bencana mengupayakan perluasan penanganan dari kebencanaan melalui data analisis laporan media sosial. Direktur Yayasan Peta Bencana Nashin Mahtani mengatakan, teknologi itu baiknya mampu menyaring noise/suara-suara bising dari berbagai hal yang dicicitkan warganet pada platform Twitter.

“Kebencanaan menjadi masalah bersama. Pemerintah mengatur dan menentukan strategi dan membangun penyelamatan kebencanaan. Maka, kami akan membantu untuk mengumpulkan data, verifikasi, dan menemukan titik lokasi di mana pihak, seperti BPBD dan BNPB, dapat langsung menentukan tidakan mereka,” ujar Nashin, di Jakarta, akhir Januari lalu.

Dia berkata, penggunaan media sosial seperti Twitter cukup efektif untuk pihak penyelamat melakukan gerak cepat ke lokasi bencana. Pada banjir 2013, dalam 6 jam terdapat 150 ribu warganet mencicitkan soal banjir di akun Twitter.

“Kami menciptakan sistem yang mentransformasikan kerumunan suara di ruang publik,” ujar Nashin.

Ketika warganet menyuarakan mengenai kata kunci kebencanaan seperti ‘banjir’, misalnya, autobot mereka akan memonitor dan membalas cicitan tersebut. Balasan dari artificial intelligence chatbot itu memastikan apakah benar terjadi banjir dan mengarahkan pada satu link, yaitu Petabencana.id.

Di sana nanti akan berlanjut tahap-tahap yang harus diisi

, seperti tinggi air melalui penggambaran animasi badan manusia dan tinggi air pada tubuhnya.

Dilanjutkan dengan kolom input foto kondisi banjir dan komentar yang bisa diisi untuk kedaruratan, seperti permintaan evakuasi hingga menjelaskan berapa banyak orang yang mendesak untuk diangkut.

Platform ini mengumpulkan, menyaring, dan menampilkan informasi bencana secara real time yang dilaporkan publik dengan metode urun daya melalui media sosial.

Laporan-laporan ini ditampilkan pada peta yang dapat diakses secara publik dan dimutakhirkan secara real time, bersamaan dengan data darurat yang relevan keluaran lembaga setempat.

Peta informasi tersebut dapat diakses bebas masyarakat pada situs

Petabencana.id dan dijadikan acuan bagi para pemangku kepentingan bencana dalam merespons kejadian bencana di daerahnya.

“Laporan-laporan tersebut akan muncul dalam kolom web

dan dimonitor juga oleh BPBD dan BNPB sehingga mereka bisa menentukan laporan mana yang mendesak untuk dikerjakan pertama. Kami mencoba membangun transparansi komunikasi dua arah. Sistem ini untuk memastikan informasi yang terverifikasi diatasi masalahnya,” kata Nashin.

 

sumber :

https://apkmod.co.id/