Konvergensi Standar Akuntansi Keuangan

Konvergensi Standar Akuntansi Keuangan

Konvergensi Standar Akuntansi Keuangan

Konvergensi Standar Akuntansi Keuangan

Konvergensi Standar Akuntansi Keuangan

Konvergensi IFRS merupakan salah satu kesepakatan dari para anggota forum G20, di mana pemerintah Indonesia adalah salah satu anggota forum tersebut. Untuk mencapai kesepakatan penting ini, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) saat ini sedang melakukan revisi atas SAK agar konvergen dengan IFRS. Diharapkan proses konvergensi ini akan selesai pada tahun 2012.

Proses konvergensi standar sangat erat kaitannya dengan aspek kebahasaan karena IFRS yang menggunakan Bahasa Inggris harus dikonvergensi ke dalam Bahasa Indonesia. Proses konvergensi standar ini tidak dapat dipandang remeh karena standar akuntansi sebagai hasil dari konvergensi nantinya tidak hanya akan menjadi rujukan bagi semua pihak yang berkepentingan dalam membuat laporan keuangan, namun juga menjadi rujukan bagi para peneliti dan akademisi di bidang akuntansi.

Sebuah permasalahan muncul terkait pengalihbahasaan istilah-istilah akuntansi dalam IFRS ke dalam Bahasa Indonesia. Permasalahan ini terjadi karena beberapa istilah yang muncul dalam IFRS belum ada padanannya dalam Bahasa Indonesia. Sebagai contoh adalah, jointly controlled entityyear-to-date basis, dan cyclically. Sepintas istilah-istilah ini terlihat mudah untuk dialihbahasakan. Namun, sewajarnya diperlukan dasar ilmiah dari aspek kebahasaan dan penalaran yang cukup untuk melakukan alih bahasa. Hal ini dimaksudkan agar makna asli dalam istilah-istilah asing tersebut jangan sampai bergeser atau bahkan hilang dalam proses alih bahasa, karena pergeseran makna dalam suatu istilah dapat mempengaruhi penalaran pihak-pihak yang berkepentingan dengan standar.

Permasalahan pengalihbahasaan istilah juga terkait erat dengan bahasa yang berterima umum. Terkadang, proses pengalihbahasaan sudah menggunakan dasar ilmiah yang benar dan bernalar, namun hasilnya adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang jarang didengar dan kurang berterima umum. Hal ini biasanya akan menimbulkan penolakan atau resistensi dari pengguna bahasa. Apalagi untuk para pihak yang kurang dapat menerima perubahaan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan juga cara-cara untuk mempermudah penerimaan pengguna. Penelitian mengenai penerimaan pengguna sering ditemukan dalam bidang Sistem Informasi Akuntansi, dengan modelnya yang terkenal yaitu Technology Acceptance Model (TAM). Model penelitian ini berdasar pada Theory of Reasoned Action yang memiliki konstruk Behavioral Intention (Niat), Attitude (Sikap), dan Subjective Norm (Norma Subjektif), ditambah dengan Perceive Ease of Use (Persepsi Kemudahan) dan Perceive Usefulness (Persepsi Kegunaan). Bila penggunaan istilah yang benar dan bernalar namun kurang berterima umum merupakan suatu titik berat, maka model penelitian ini dapat dimodifikasi untuk membuat penelitian yang hasilnya dapat digunakan untuk mendukung penerimaan istilah akuntansi untuk para pengguna.

****

Sering muncul anggapan dari para praktisi bahwa, ‘yang penting substansi aturannya dan tahu maksudnya’. Anggapan ini tidak dapat dipungkiri karena memang permasalahan yang dihadapi para praktisi adalah penggunaan standar sebagai pedoman dalam melakukan praktik. Oleh karena itu, mereka pasti akan menitikberatkan masalah standar pada substansi dan praktik-praktik apa saja yang akan terpengaruh oleh standar ini. Tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa standar ini juga digunakan oleh pihak-pihak lain seperti para akademisi dan mahasiswa. Pihak-pihak ini akan membutuhkan istilah-istilah akuntansi beserta definisi dan penalaran dibalik istilah itu dalam pengajaran maupun penelitian mereka. Contoh bahwa betapa pentingnya penalaran dibalik istilah terlihat dalam penggunaan istilah leverage yang sering muncul dalam penelitian-penelitian akuntansi. Banyak mahasiswa yang gagal memahami penalaran dibalik istilah tersebut, namun menyebutkan istilah ini dalam penelitiannya. Padahal, istilah leverage dalam Bahasa Inggris tidak semerta-merta dibentuk begitu saja. Ada penalaran dibalik kata leverage yang dalam Bahasa Indonesia dapat disebut sebagai pengungkit. Sebetulnya, apa yang diungkit? Silakan anda teliti. Contoh lainnya adalah istilah cost of goods sold yang secara penalaran maksudnya adalah expenseyang dinilai dengan cost dari barang yang terjual. Pembentukan istilah cost of goods sold menjadi beban pokok penjualan cukup mempersulit penalaran mahasiswa untuk memahami maksud asli istilah tersebut. Kedua contoh ini dapat menggambarkan bahwa betapa pentingnya sebuah istilah dalam bidang akademik.

Pembuatan standar dengan dasar ‘yang penting substansi aturannya dan tahu maksudnya’ memang tidak terlalu bermasalah bagi kalangan praktisi, namun patut dipertimbangkan bahwa hal ini akan berpengaruh pada dunia akademik. Pandangan semacam ini akan membuat mahasiswa mengucapkan istilah-istilah yang sebetulnya mereka tidak paham maksudnya.

Mengutip analogi seorang guru besar di UGM, hal ini seperti seorang pemuda yang mengucapkan ‘Aku cinta padamu’ kepada seorang pemudi. Tanpa kedua belah pihak memahami betul apa arti kata-kata tersebut, biasanya si pemudi akan merasa bahagia setengah mati. Kita semua pasti tidak mau hal semacam ini terjadi di bidang ilmiah seperti akuntansi. Oleh karena itu, bila kita ingin generasi penerus bangsa ini semakin maju di bidang akuntansi, maka aspek kebahasaan dalam proses konvergensi perlu dipikirkan sungguh-sungguh. Sehingga pada akhirnya, tidak hanya terjadi sebuah konvergensi standar, namun juga tercapai sebuah konvergensi istilah.

Sumber : https://uberant.com/article/624633-dosenpendidikan-introduces-high-school-study-materials-on-their-website/