kisah dakwah nabi muhammad

Dakwah Nabi dan Sumber Utama Islam

Islam datang mula-mula sebagai seruan perbaikan bagi praktek kehidupan di jazirah Arab dan sekitarnya, yang diwarnai berbagai ketimpangan. Kehidupan, oleh kebanyakan orang yang hidup pada sekitar abad ketujuh Masehi di daerah ini, diyakini hanya sebatas kelahiran dan kematian individu,[1] sehingga keberhasilan hidup diukur dengan perolehan-perolehan material dan kepuasan-kepuasan jangka pendek. Dalam bidang sosial tatanan yang berlaku lebih banyak memberikan hak-hak istimewa kepada kelas atas, namun menindas kelas bawah. Karena itu sementara kaum atas, yang memperoleh keuntungan material berlimpah dari kegiatan perdagangan,[2] hidup dalam kenikmatan dan kebebasan, banyak terdapat orang-orang fakir yang tidak dapat lepas dari kemiskinan dan anak-anak yatim yang terlantar. Penyembahan berhala dan penuhanan orang-orang kuat menjadi semacam “agama”, sedangkan kemuliaan hidup diukur dengan keunggulan-keunggulan yang dikaitkan dengan perang. Spiritualitas dan pertimbangan yang melewati batas-batas kehidupan duniawiah absen dari kesadaran mereka.

Pandangan hidup yang seperti itu tergambar dengan sangat jelas dalam syair Ṭarafah bin al-‘Abd al-Yasykurī yang termasuk dalam Muʻallaqāt,[3]

sebagai berikut:

ولَولا ثَلاثٌ ھُــــنَّ من عیشةِ الْفـَتى # وَجدِّكَ لم أَحفِلْ مَتى قامَ عُوْدي
فَمِنْھُنّ سَبْـــــقِي الْعــاذِلاتِ بِشَربَـةٍ # كُمَیْتٍ متى ما تُعْلَ باَلماءِ تُزْبِدِ
وَكَـــــرِّي إِذَا نادَى المُضَافُ مُحَنَّباً # كَسِیدِ الْغَـــضا نَبّھْتَـــهُ الُمتَوَرِّدِ
وَتقصیرُ یوم الدَّجنِ والدجنُ مُعجِبٌ # بِبَھْكَنَةٍ تَحْـــتَ الخِــباءِ الُمعَمَّدِ

Kalaulah bukan karena tiga hal yang merupakan pokok kehidupan pemuda,
Demi kakekmu, tak peduli aku kapan orang datang menakziahiku

Pertama: minumku sebelum orang yang nyinyir mengata-ngataiku
Anggur merah yang manakala dituangi air keluar buahnya

Kedua: lariku ke medan perang ketika orang menabuh genderang
Bak rubah hutan yang lari kencang ketika kau usik dari tidurnya

Ketiga: menghabiskan hari gerimis—oh indahnya hari gerimis itu
Dengan perempuan montok di bawah tenda yang bertiang

Jadi, bagi penyair zaman Jahiliah ini yang penting dalam hidup ini hanyalah: minuman keras, perang dan perempuan.
Memang benar bahwa Makkah sekitar satu abad sebelum Islam merupakan kota perdagangan transit yang membawa kemakmuran. Akan tetapi, kemakmuran itu hanya dinikmati oleh sebahagian kecil dari penduduknya, yakni kaum elitnya saja. Sebahagian besar penduduk yang lain hidup dalam kesulitan dan terpaksa harus berhutang dengan bunga yang sangat besar (aḍʻāfan muḍaʻʻafah: berlipat-lipat). Akibatnya, terjadi penindasan dari yang pemberi pinjaman atas orang-orang yang terpaksa berhutang. Selain itu, bangsa Arab berada dalam himpitan dua kekuatan besar yang bersifat hegemonik. Di sebelah barat terdapat kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan di sebelah timur imperium Persia. Keduanya saling berebut hegemoni dan bangsa Arab kebanyakan tidak menyadari kedudukan mereka yang terjepit itu. Dua keluarga dari mereka Bani Ghassān dan Bani Mundzir memilih untuk menjadi vazal atau penguasa taklukan dari kedua kekuatan besar itu. Bani Ghassān yang terkenal dengan sebutan Ghasāsinah di Syria dan sekitarnya merupakan sekutu Bizantium, sementara Bani Mundzir yang disebut al-Manādzirah sekutu Persia di Irak. Di bagian tengah jazirah Arab yang tidak tersentuh kekuasaan kedua imperium hegemonik di atas, kabilah-kabilah Arab sibuk dengan kehidupan mereka yang penuh dengan pertikaian berdarah karena hal-hal yang sangat sepele. Banyak dari mereka yang hidup dalam pengembaraan mengikuti jatuhnya hujan agar mereka dapat mendapatkan makanan untuk ternak mereka.

RECENT POSTS