Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan PerwakilanKerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Masyarakat Indonesia terdahulu telah mengenal sistem bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah-masalah utamanya yang mnyangkut kepentingan bersama,

yang sampai saat ini masih berkembang di daerah pedesaan. Seperti dalam pemilihan kepala desa, maka masyarakat melakukan musyawarah untuk menentukan kepala desa yang baru.

Pentingnya musyawarah dan mufakat, H.A.W Widjaja ( 2000 : 16 ) berpendapat bahwa, dalam musyawarah dan mufakat kepentingan manusia sebagai pribadi dan masyarakat dijamin. Kepentingan manusia pribadi akan dikalahkan, bila bertentangan dengan kepentingan umum. Kebebasan dijamin sesuai dengan mufakat. Segala sesuatu diambil secara musyawarah untuk mendapatkan mufakat.

Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, pada intinya adalah merujuk pada sistem “demokrasi” yang di anut oleh bangsa Indonesia. Demokrasi di Indonesia juga dapat diartikan sebagai pemerintah dari rakyat, oleh rakyat,dan untuk rakyat. Dan ciri khas kepribadian bangsa kita salah satunya adalah, tindakan bersama baru dapat diambil bilamana telah diputuskan bersama.

Sistem-sistem pengambilan keputusan dengan bersama, atau sesuai dengan kepribadian khas bangsa Indonesia itulah yang disebut dengan Demokrasi Pancasila, yaitu suatu sistem demokrasi yang dijiwai dan diintegrasikan dengan nilai sila-sila Pancasila. Dalam pelaksanaannya demokrasi ini harus dijiwai oleh sila Ketuhanan YME, yang diliputi oleh rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab yang disemangati dengan rasa Persatuan Indonesia, serta ditunjukan kea rah pencapaian Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ( Muzayin Ar 1990 : 29).

Peran generasi muda juga dapat terimplementasikan dalam sila ini. Utamanya pada aktivitas-aktivitas yang bersinggungan dengan kepentingan orang banyak. Upaya pengamalan nilai-nilai sila ini dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti, :

1)      Berupaya untuk menutamakan musyawarah hingga mencapai kata mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama ,

2)      Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain dalam bermusyawarah,

3)      Menutamakan kepentingan bersama, berbangsa dan bernegara diatas kepentingan individu,

4)      Berupaya untuk melaksanakan hasil musyawarah dengan tulus, ikhlas dan bertanggung jawab,

5)      Menjunjung tinggi rasa Keimanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan dalam bermusyawarah,

Pada era modern kini, kecenderungan generasi muda untuk tidak memusyawarahkan setiap masalah sangat tinggi. Dengan kemajuan teknologi para generasi muda termanjakan dengan proses instant dalam bertindak dan dalam beraktivitas. Generasi Muda juga akan tertanam rasa nasionalisme jika mewujudkan sila ini. Sifat musyawarah dan gotong royong yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia, dan jika setiap permasalahan di selesaikan dengan musyawarah maka akan tergerus konflik-konflik atas nama individu.

Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia

Bangsa Indonesia jika dilihat dari segi geografisnya terletak di antara dua Samudera dan dua Benua, serta Indonesia terletak pada garis khatulistiwa yang cenderung beriklim tropis. Keadaan yang seperti itulah membuat kekayaan alam Indonesia melimpah. Maka dari itu pula rakyat Indonesia harus berupaya agar tercipta kesejahteraan yang adil dan merata.

Keadilan sosial juga berarti keadilan yang berlaku bagi setiap hubungan manusia dan masyarakat. Sesama anggota masyarakat adil juga diartikan apabila setiap warga negara dapat menikmati hasil yang sesuai dengan fungsi dan peranannya dalam masyarakat. Dapat dikatakan pula sila keadilan sosial ini melandasi segala ikhtiar dalam upaya terciptanya pemerataan rasa keadilan utnuk kepentingan kesejahteraan bersama.

Keadilan disini juga dapat diartikan sebagai keberhasilan pemerataan pembangunan. Peran pemerintah dalam pembangunan nasional juga sangat penting, utamanya dalam pembuatan kebijakan dan aturan perundang-undangan. Begitupun dengan peran generasi muda, dengan melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi sesama anggota masyarakat, tidak berbuat merugikan kepentingan orang banyak, serta tidak berpola hidup konsumtif juga telah membantu mewujudkan keberhasilan pemerataan keadilan.

Pengamalan sila ini pada generasi muda, seperti sila-sila lainnya juga dapat dilakukan pada kehidupan sehari-hari, seperti :

1)      Mengembangkan sikap-sikap adil dalam setiap perbuatan,

2)      Berlaku adil dalam memperlakukan orang lain tanpa memandang suku, warna kulit, agama, status sosial,

3)      Saling menghormati hak-hak orang lain,

4)      Berusaha menghindarkan segala bentuk permusuhan dan perpecahan serta sikap hidup yang mementingkan diri sendiri,

5)      Menumbuhkan rasa suka bekerja keras,

6)      Menanamkan sikap suka rela membantu orang lain dalam masyarakat,

7)      Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum,

8)      Melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat bagi kepentingan umum,

9)      Menjauhi sikap hidup konsumtif dan mewah dan senantiasa untuk hidup sederhana.

Dengan pengamalan sila ke lima ini oleh berbagai pihak maka akan terminimalisir terjadinya kemiskinan, keterbelakangan, dan penindasan di Indonesia, terjadinya banyak eksploitasi di Indonesia juga karena kurangnya pengamalan sila keadilan. Keadilan juga merupakan watak khas kehidupan bangsa yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dan harus dikembangkan serta dilestarikan oleh generasi muda guna mmbangun rasa nasionalisme.

Upaya penanaman nilai-nilai Pancasila tidak boleh dipisahkan antara satu dengan yang lainnya karena merupakan satu kebulatan yang utuh. Tidak akan dirasakan kegunaannya dalam masyarakat apabila tidak dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan dilandasi dengan komitmen.

Pengamalan nilai-nilai Pancasila ini juga merupakan tugas bersama. Namun agar tetap lestari dan dapat dikembangkan, peran generasi muda sangat penting. Pada era modern kini tidak ada yang memfilter segala budaya modern yang masuk kedalam bangsa Indonesia kecuali Pancasila. Hanya dengan pengamalan dan peghayatan Pancasilalah yang dapat membangun jiwa nasionalisme dan patriotisme pada generasi muda.


Sumber: https://gurupendidikan.org/