Kenyamanan sebagai makna hakiki manusia beradab

Kenyamanan sebagai makna hakiki manusia beradab

Kenyamanan jiwa bukanlah suatu hal yang mudah didapat, layaknya orang bijak bicara seharusnyalah kita bisa menemukan kenyamanan jiwa dikala usia mulai bertambah, tapi sepertinya hal itu butuh perjuangan yang besar karena kenyamanan jiwa memang mahal harganya. Usia yang bertambah, pengalaman hidup mengajarkan begitu banyak hal, mulai dari yang salah hingga yang benar, mulai dari yang pahit hingga menyenangkan, mulai dari yang mudah hingga yang berat, segala warna, seribu rasa dan jutaan kisah, tapi kapankah kita temukan kenyamanan jiwa?

Saat begitu banyak keinginan yang bermain dengan indahnya di dalam kepala ini, ada keinginan untuk bisa tidur lebih lama, keinginan untuk bisa punya pasangan yang baik, keinginan untuk makan enak, keinginan untuk bisa liburan panjang tanpa harus memikirkan pekerjaan, keinginan untuk sukses di karir, keinginan untuk bahagiakan keluarga,keinginan untuk bisa lebih dan lebih lagi…hingga kita bisa mendengarkan suara hati yang paling dalam, jujur dan rendah hati untuk bicara “bersyukurlah dengan apa yang telah terjadi dalam hidup kita”. Orang bijak bicara,”apapun itu pasti ada maknanya.”

Dalam kesempatan ini saya akan menyinggung sedikit tentang poligami. Apalagi sekarang marak kontroversi tentang berdirinya klub poligami di Bandung. Ketika poligami untuk kesenangan pribadi, maka poligami tak lebih adalah sebuah bentuk dari keserakahan manusia yang dilegalkan. Ini tak ada bedanya dengan sudah punya mobil, masih ingin punya mobil lagi lebih banyak. Karenanya sangat keliru kalau kita mencoba mengatasi desakan keinginan dan kesenangan pribadi dengan cara mengumbarnya agar tercapai kepuasan yang kita inginkan. Padahal, kepuasan pribadi tidak akan pernah terpuaskan. Jika berpoligami dibolehkan menurut agama yang mereka anut, apakah tidak keliru? Sedangkan di Kitab Suci mereka, tidak akan pernah ditemukan ayat yang membolehkan poligami karena alasan kesenangan pribadi.

Tentang berdirinya klub poligami

Tentang berdirinya klub poligami yang asalnya dari Malaysia itu. Ini bukti bahwa mereka tidak nyaman dengan hidup mereka. Bosan, hampa, dan merasa diri tidak berarti meskipun telah memiliki empat orang istri dan kaya sekalipun. Makanya, mereka membangun komunitas agar mereka bisa mengekspresikan dirinya sehingga mendapat apresiasi atau bahkan penghargaan dan pujian dari komunitasnya tersebut. Sehingga, diharap hidup mereka tidak hampa lagi. Untuk itu masyarakat tidak perlu resah, kita semua memaklumi jika pemahamannya seperti itu.

Sangat terasa sekali bedanya, bukan? Ternyata kenyamanan pribadi itu sangat terbatas jika dibandingkan dengan kenyamanan sosial. Kita akan merasa sangat bahagia jika bisa memberikan kontribusi dan membantu orang lain. Semakin kita lakukan semakin kita bahagia dan puas. Bahkan, kebahagiaan dan kenyamanan kita tidak terbatas. Ini berarti kenyamanan yang lebih tinggi ada pada interaksi dan saling memberi manfaat. Kita boleh mengejar kenyamanan pribadi, tetapi tidak boleh mengumbarnya sehingga menjadi serakah. Karena kenyamanan pribadi itu cepat atau lambat akan mencapai titik kejenuhan. Sedangkan kenyamanan sosial tidak pernah mengalami titik jenuh. Karena sumbernya lebih banyak dan bersumber pada orang lain.

Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/