Kembangkan Wisata di Kabupaten Mojokerto, COP UK Petra Kolaborasi dengan 7 Negara

Kembangkan Wisata di Kabupaten Mojokerto, COP UK Petra Kolaborasi dengan 7 Negara

Kembangkan Wisata di Kabupaten Mojokerto, COP UK Petra Kolaborasi dengan 7 Negara

Kembangkan Wisata di Kabupaten Mojokerto, COP UK Petra Kolaborasi dengan 7 Negara

Kembangkan Wisata di Kabupaten Mojokerto, COP UK Petra Kolaborasi dengan 7 Negara

Comunity Outreach Program (COP) Universitas Kristen (UK) Petra kembali digelar di Kabupaten Mojokerto. Ada yang berbeda tahun ini, karena salah satu program pengabdian masyarakat yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UK Petra mempunyai tema.

Keep Blessing The Nations menjadi tema COP UK Petra yang berkolaborasi

dengan tujuh negara tahun 2019 ini. Sementara COP sendiri digelar di enam dusun yang tersebar di Kecamatan Jatirejo dan Gondang. Mereka terlihat kegiatan proyek fisik dan non fisik bersama warga sekitar.

Dosen pembimbing UK Petra, Dwi Setiawan mengatakan, COP KKN UK Petra bersifat tematik dan berkelanjutan. “Jadi bukan hanya datang sekali, tahun depan pindah ke tempat lain. Jadi ada tema yang harus dikembangkan sampai sukses,” ungkapnya, Jumat (26/7/2019).

Masih kata Dwi, COP di Desa Begagan Limo bertema desa sehat dan desa wisata

karena ada wisata di Desa Begagan Limo. Lembah Harapan dan Akar Seribu. Dalam rangka mensukseskan desa sehat dan desa wisata, lanjut Dwi, ada kegiatan fisik dan non fisik.

“Kegiatan fisik, misal pembangunan green house untuk anggrek. Diharapkan dari tempat wisata, pengunjung bisa mampir melihat anggrek dan membawa pulang sebagai souvenir. Selain itu, kenapa anggrek? Karena anggrek punya nilai jual,” katanya.

Sehingga, lanjut Dwi, di warga Desa Begagan Limo yang diajak bekerja sama jika ada nilai jualnya

maka akan dirawat dengan baik dibanding asal tanaman. Jenis anggrek yang dipilih sesuai dengan iklim setempat sehingga bisa hidup dan mudah perawatan.

“Kegiatan non fisik, macam-macam. Termasuk, disini ada gamelan dan ada penabuh lokal tapi mereka semua otodidak sehingga kita datangkan pelatih profesional. Kita kerjasama dengan dalang untuk mengajarkan mereka yang ujung-ujungnya diharapkan bisa mendukung wisata juga,” ujarnya.

Dwi menjelaskan, sehingga gamelan bisa main di tempat wisata saat event besar. Setelah dilatih pelatih profesional, warga lokal tersebut menularkan ke mahasiswa yang sedang menggelar COP di Desa Begagan Limo tersebut.

 

Sumber :

https://s.id/890f2