ISI PERJANJIAN ROEM ROYEN

ISI PERJANJIAN ROEM ROYEN

ISI PERJANJIAN ROEM ROYEN

ISI PERJANJIAN ROEM ROYEN

1. PASUKAN INDONESIA BERHENTI BERGERILYA

Perjanjian Roem Royen telah berakhir pada tanggal 7 mei 1949 dan menghasilkan beberapa kesepakatan, kesepakatan yang pertama yaitu berhentinya pasukan bersenjata Indonesia dalam bergerilya. Dimana pasukan Indonesia diperintahkan untuk mundur dan berhenti bergerilya di beberapa daerah di Indonesia.

Perintah berhenti bergerilya banyak sekali ditentang oleh pasukan bersenjata Indonesia, namun atas perintah dari Panglima Jenderal Sudirman membuat pasukan Indonesia mulai patuh terhadap pemerintahan. Akibat mundurnya pasukan Indonesia membuat suasana menjadi tenang dan sangat kecil terjadinya pertempuran dengan Belanda.

2. PEMERINTAH INDONESIA AKAN DATANG DI KONFERENSI MEJA BUNDAR

Konferensi Bundar akan digelar pada bulan agustus tahun 1949 di Den Haag Belanda ini banyak sekali ditentang oleh masyarakat Indonesia, namun dengan adanya Perjanjian Roem Royem membuat pemerintah Indonesia harus hadir di Konferensi tersebut. Bukan hanya Indonesia saja namun berbagai perwakilan dari negara seperti Amerika Serikat, Belgia, Uni Soviet, dan negara lainnya akan hadir.

Dalam perjanjian ini juga berisi tentang wajib hadirnya negara-negara ciptaan Belanda di kepulauan Indonesia, seperti Nugini Belanda, Kesultanan Pontianak, Negara Madura, Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, Negara Sumatra Timur, dan Dayak Besar juga harus ikut dalam Konferensi Meja Bundar yang akan diselenggarakan di Den Haag Belanda.

3. PEMERINTAHAN INDONESIA DIKEMBALIKAN DI YOGYAKARTA

Isi Perjanjian Roem Royem yang berikutnya adalah pengembalian pemerintahan Indonesia di Yogyakarta, dimana Belanda harus mundur dari Yogyakarta dan menyerahkannya kepada Indonesia untuk digunakan sebagai tempat Pemerintahan Indonesia. Sebelumnya Yogyakarta direbut oleh Belanda dalam Agresi Militer Belanda II.

Sebelum keputusan ini dibuat Indonesia memang sudah merebut Yogyakarta kembali, tepatnya pada penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Indonesia sebelum Perjanjian Roen Royem digelar. Akibat penyerangan inilah yang membuat PBB mendesak Belanda untuk melakukan perjanjian dengan Indonesia dan kini biasa disebut dengan Perjanjian Roem Royem.

4. ANGKATAN BERSENJATA BELANDA MENGHENTIKAN AKSI MILITER

Dalam Perjanjian Roem Royen juga berisi tentang kewajiban Belanda untuk berhenti melakukan aksi militer, baik melakukan penyerangan ataupun melakukan agresi militer lagi kepada Indonesia. Disini Belanda juga harus membebaskan para tawanan yang telah ditawan sejak desember 1948.

Dimana salah satu tawanan perang tersebut adalah petinggi Indonesia, sehingga merupakan kehilangan yang sangat besar dalam pemerintahan Indonesia itu sendiri. Pengembalian tawanan ini disambut dengan baik oleh masyarakat Indonesia.


Baca Juga :