Interaksi antara filsafat dan ilmu

   Interaksi antara filsafat dan ilmu

Semua ilmu pengetahuan positif  bersumber pada filsafat. Dalam perkembangannya, ilmu-ilmu itu memisahkan diri dari filsafat. Emansipasi ilmu-ilmu dan filsafat dalam beberapa abad terakhir terjadi karena kecenderungan spesialisasi ilmu-ilmu. (Soemargono: 12)
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ilmu adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan. Sedangkan filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan. (Hamersma: 10)
Ilmu dan filsafat memiliki kesamaan dalam hal objek material. Apa yang dipelajari ilmu psikologi, ilmu ekonomi atau sosiologi juga dipelajari filsafat. Tetapi ilmu berbeda dengan filsafat dalam hal objek formal. Objek formal adalah sudut pandang dalam menyelidiki sesuatu. Seperti diuraikan di atas, ilmu-ilmu positif membatasi diri pada penelitian empiris, sedangkan filsafat berusaha untuk memperoleh penjelasan yang paling dalam tentang segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.
Psikologi mempelajari jiwa dan gejala kejiwaan pada makhluk hidup. Salah satu metode untuk mencapai pemahaman tentang gejala kejiwaan adalah dengan eksperimen. Hasilnya adalah data-data yang menjelaskan aspek-aspek kejiwaan. Tetapi pertanyaannya: apa itu jiwa? Adalah bidang penyelidikan filsafat.
Ilmu tumbuh-tumbuhan mempelajari tentang kehidupan tumbuhan. Ahli ilmu tumbuh-tumbuhan menyelidiki tentang arti batang, dahan dan gejala hidup pada tumbuh-tumbuhan. Tapi ia tidak bicara tentang apa itu hidup, atau apa tujuan kehidupan. Itu adalah tugas filsafat. (Poedjawijatna: 62-63)
Akan tetapi, ilmu dam filsafat juga mempunyai hubungan. Ilmu membutuhkan filsafat, dan sebaliknya filsafat membutuhkan ilmu. Bagi ilmu, filsafat dibutuhkan dalam penyelidikan tentang azas-azas ilmu itu sendiri, selanjutnya filsafat harus melakukan pengkajian terhadap azas-azas tersebut berdasarkan fakta-fakta dan temuan terbaru. Untuk mencapai pemahaman tentang manusia misalnya, filsafat membutuhkan psikologi yang menyajikan data tentang perilaku manusia. Tanpa psikologi, kesimpulan filsafat tentang kemanusiaan akan pincang, bahkan tidak benar.
Bertrand Russell mengatakan: “Seseorang tidak musti menjadi seorang filsuf yang lebih baik dengan jalan mengetahui fakta-fakta ilmiah yang lebih banyak; azas-azas serta metode-metode dan pengertian-pengertian yang umumlah yang harus ia pelajari dari ilmu, jika ia tertarik kepada filsafat”.
Karena filsafat berusaha menyusun suatu pandangan dunia yang sistematis, maka apa yang dihasilkannya tidak boleh bertentangan dengan hasil-hasil ilmu yang telah dikenal. Kesesuaian dengan bidang lain penyelidikan manusia merupakan ukuran untuk menguji hasil-hasil yang dicapai. Tulisan-tulisan awal filsuf Hegel yang mencoba membuktikan bahwa alam semesta ini tersusun hanya dari tujuh planet terbantah setelah ditemukan planet kedelapan. Demikian pula, eksperimen yang dilakukan Galileo di Pisa meruntuhkan anggapan yang sudah diterima sebelumnya. Jadi, ilmu filsafat saling mendukung (Kattshoff: 87-88)

2.      Interaksi Antara Filsafat dan Agama

Filsafat adalah ilmu yang mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu yang ada dan mungkin ada melalui akal budi. Agama adalah keseluruhan pandangan tentang Tuhan, dunia, hidup dan mati, tingkah laku serta baik buruknya berlandaskan wahyu.
Filsafat mencapai kebenaran lewat penalaran akal budi, sedangkan kebenaran dalam agama diperoleh karena diwahyukan Tuhan. Tetapi dengan akal budinya, manusia dapat memberikan pendasaran yang rasional atas kebenaran yang diwahyukan. Itulah yang dilakukan oleh teologi. Sebagai ilmu, teologi mempunyai metode, system dan obyektifitas. (Poedjawijatna: 69-70)
Hubungan filsafat dan teologi sangat dekat, bahkan lebih dekat dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain. Filsafat juga mencoba memahami secara rasional tentang Tuhan, adaNya, sifat-sifatNya  serta hubungan Tuhan dan dunia. Sebaliknya, dalam teologi semuanya itu juga coba dipelajari secara rasional. Akan tetapi filsafat dan teologi tetap berbeda.
Dalam membahas masalah interaksi agama dan filsafat ini, yang paling penting adalah sejarah kemunculan, titik perbedaan, dan titik pertemuan antara filsafat dan agama.
Saat ini, filsafat dilihat sebagai disiplin yang melatih orang dalam seni berpikir, yakni diperolehnya sekumpulan keahlian yang memungkinkan terjadinya suatu bentuk pemikiran tertentu. Bentuk pemikiran yang concern dengan pengajuan argument, menguji kelemahannya, membelanya dari keberatan-keberatan dan mengembangkannya dalam suatu cara yang koheren dan logis.
Dalam kaitanya dengan agama, terdapat banyak ragam pola pemikiran filosofis. Hanya saja dalam sejarah Yunani maupun Eropa, pemikiran filosofis tidak bermula dari tanggapannya terhadap agama atau sebagai bagian dari penyelidikan religius dalam rangka memahami agama. Para filosof ternama Yunani awal berfilsafat tanpa merasa perlu memadukan agama. Salah satu alasannya bahwa dalam lingkungan Yunani dikelilingi oleh budaya politeistik yang merupakan bagian dari kosmos. Alasan kedua, filosof awal memulai membuang mite sejarah-sejarah dunia yang tidak memiliki landasan dan menggunakan rasionalitas kritis untuk menginterpretasikan dunia untuk mencapai pengetahuan.
Dalam interaksinya dengan Islam, pada masa permulaan, filsafat berjalan beriringan dengan agama, tanpa memunculkan persoalan apa pun. Para filosof awal, sebagian juga ilmuwan dan sufi, misalnya al-Farabi. Sejarah manis antara Islam dengan filsafat berlangsung sampai awal abad ke-10, dan melahirkan konsep teologi skolastik, kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban era keemasan Islam (pada Dinasti Abbasiyah 750-1258 M, terutama periode permulaan sampai tahun 874 M). banyak ilmuan muslim yang sekaligus filosof, sehingga ajaran keagamaannya kental dengan nuansa dan ajaran filsafat, demikian pula sebaliknya, seperti al-Kindi, Ibn al-Rawandi, Abu Hayyan al-Tauhidi, ar-Rozi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ikhwan al-Shofa, Misykawayh dan Yahya bin ‘Aid (Fakhri, 1986:31-285)