Dampak Terhadap Satwa Dan Kehidupan Liar

Dampak Terhadap Satwa Dan Kehidupan Liar

Saat ini, pariwisata juga duketahui memberikan dampak terhadap satwa liar lainnya. Reynols dan Braithwaite (2001) mendeskripsikan bahwa aktifitas wisata yang dekat dengan habitat satwa liar, dapat mempengaruhi kehidupan liar. Pengaruh-pengaruh negatif tersebut antara lain:

Dampak Terhadap Satwa Dan Kehidupan Liar

  1. Pengambilan secara ilegal terhadap satwa dan kematian satwa
  2. Pembersihan habitat
  3. Perubahan komposisi tumbuhan
  4. Mengurangi produktifitas tumbuhan
  5. Mengubah struktur tumbuhan
  6. Polusi
  7. Emigrasi satwa
  8. Mengurangi daya reproduksi satwa
  9. Habituasi
  10. Munculnya perilaku stereotip
  11. Penyimpangan pola makan satwa
  12. Penyimpangan perilaku sosial
  13. Meningkatnya predasi
  14. Modifikasi pola-pola aktifitas, dan
  15. Mengubah struktur aktifitas.

Gangguan-gangguan terhadap satwa dapat terjadi karena tumbuhan sumber makanannya terganggu. Dan struktur komunitasnya, serta produtifitasnya. Burung-burung pemakan madu dan pemakan serangga lainnya akan hilang dari kawasan, karena tumbuhan pendukungnya menurun. Wisatawan dapat mengurangi produktifitas tumbuhan, seperti rumput dan herba karena terinjak-injak atau rusak. Atau karena alasan lain yang memungkinkan rendahnya produktifitas tumbuhan yang berperan terhadap satwa. Bibit-bibit tumbuhan yang eksotik memounyai peluang masuk,karena terbawa oleh manusia secara sengaja atau tidak sengaja.

Polusi menyebabkan tercemarnya sumber-sumber air yang digunakan satwa sehingga mempengaruhi kesehatan satwa dan banyak hal, dapat menyebabkan kematian karena keracunan. Selain itu, akumulasi sumber pencemar dapat menurunnya daya reproduksi satwa untuk berkembang biak. Polusi udara, terutama gangguan-gangguan suara dapat menggangu reproduksi,. Kedatangan pengunjung dan keributan-keributan yang ditimbulkannya sering menyebabkan satwa merasa tidak nyaman adan memilih menyingkir dari habitatnyauntuk mencari habitat baru. Bagi bebrapa satwa, masa-masa pencarian habitat baru ini merupakan masa-masa penting, karena setiap saat harus menghadapi malapetaka predasi (pemangsaan oleh predatornya), atau kekurangan sumber daya makan.

Habituasi, munculnya perilaku stereotip, penyimpangan pola makan satwa, penyimpangan perilaku sosial, dan modifikasi pola-pola perilaku aktivitas merupakan dampak yang dapat muncul karena kontak yang sering terjadi antara satwa dan manusia. Dalam banyak hal, perilaku ini sangat merugikan satwa yang bersangkutan, karena dalam jangka waktu yang lama akan mengurangi daya hidupnya di alam bebas (Hakim, Lukman :130-132).

  • Krisis Sumber Daya Air

Dampak dari pembangunan sektor wisata terhadap sumber daya air telah diketahui secara nyata. Air adalah sumber daya penting, di mana manusia sangat bergantung. Air bersih merupakan kebutuhan mutak dan penurunan kualitasnya (karena pencemaran dan penurunan kuantitasnya, yakni karena berkurang debit aliran air) menjadi ancaman nyata bagi manusia.

Seringkali konflik antara pengelola industri wisata, terutama pemilik hotel, restoran, dan pengembang wisata lainnya malawan penduduk lokal akan muncul. Konflik yang sering terjadi menyangkut pengalihan tata guna air permukaan dan air tanah. Biasanya, pengalihan ini dapat terjadi karena pembelokan aliran air, yakni untuk kepentingan masyarakat lokal dan pertanian setempat menuju pemenuhan sumber daya air untuk hotel, restoran, dan kepentingan wisata lainnya.

Tidak semua kawasan destinasi wisata mempunyai sumber air yang bagus dan melimpah, beberapa kawasan, bahkan tidak mempunyai sumber air sama sekali, kalaupun ada, sungai yang terbentuk karena pengaruh hujan lebat dan besifat sesaat. Pada musim kemarau, sungai akan kering (Hakim, Lukman :132-133).

  • Dampak Spesies Eksotik

Berkembanya sebuah destinasi wisata membuka peluang terhadap tumbuh dan berkembangnya spesies-spesies eksotik. Wisatawan sering mengunjungi destinasi wisata dengan membawa makanan yang mengandung biji, umbi atau bagian lain yang dapat tumbuh. Spesies eksotik sering lepas dari pengawasan penegelola taman nasional, sampai kemudian keberadaanya diketahui sangat mengancam kestabilan ekosistem.

Potensi masuknya tumbuhan eksotik dapat terjadi karena permintaan terhadap lanskap pertamanan yang melengkapi destinasi wisata. Sebuah destiansi wisata, biasanya “dipercantik” dengan adanya tumbuh-tumbuhan berbunga indah atau mempunyai karakter indah lainnya. Yang umumnya dijumpai pada destinasi alami (Hakim, Lukman :136).

sumber :

https://okabawes.co.id/sewa-bus-pariwisata-karanganyar/